PT GKP Catat Capaian Signifikan Pengelolaan Lingkungan Sepanjang 2026

PT Gema Kreasi Perdana (GKP) mencatatkan sejumlah pencapaian signifikan dalam pengelolaan lingkungan di Pulau Wawonii sepanjang tahun 2025, yang mencakup aspek kualitas air, rehabilitasi hutan, hingga konservasi pesisir. Perusahaan pertambangan nikel ini memperkuat infrastruktur pengelolaan air limbah yang membuat kualitas air tambang 100 persen memenuhi baku mutu lingkungan sepanjang tahun.

"Pengelolaan air menjadi prioritas utama kami. Seluruh hasil pemantauan menunjukkan kualitas air limbah tambang PT GKP konsisten berada di bawah ambang batas baku mutu sesuai standar regulasi pemerintah," kata Environment & Forestry Superintendent PT GKP Badrus Soleh, Selasa.

Hingga Desember 2025, luas kolam pengendap (settling pond) perusahaan telah mencapai 4,88 hektare. Hal ini merupakan bagian dari sistem pengendalian lingkungan untuk memastikan aktivitas operasional tidak berdampak negatif pada perairan sekitar.

Dalam aspek kehutanan, PT GKP telah merealisasikan Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 743 hektare yang tersebar di Kabupaten Konawe Kepulauan dan Konawe Selatan. Program penanaman bibit pohon tersebut telah mencapai target 100 persen dan kini memasuki tahap pemeliharaan tahun pertama bersama BPDAS Konaweha.

Selain itu, perusahaan juga telah melakukan reklamasi lahan seluas 19,77 hektare. Untuk mendukung penghijauan area tambang, PT GKP memproduksi 15.054 bibit tanaman dari fasilitas persemaian (nursery) internal sepanjang 2025.

Komitmen lingkungan perusahaan juga menyasar wilayah pesisir melalui penanaman 10.000 bibit mangrove di sepanjang Pantai Wawonii guna menjaga ekosistem dan melindungi garis pantai. Atas berbagai upaya tersebut, PT GKP berhasil meraih Penghargaan PROPER Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI untuk periode 2023-2024.

Capaian ini mendapat respon positif dari pakar lingkungan sekaligus Guru Besar Jurusan Kehutanan Universitas Halu Oleo (UHO), Prof. Dr. Ir. Hj. Husna, MP. Ia menilai langkah tersebut merupakan bukti kolaborasi yang baik antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekologi di Pulau Wawonii. Senada dengan hal tersebut, perwakilan masyarakat Desa Teporoko, Sumarni, mengaku merasakan dampak langsung dari program lingkungan perusahaan, terutama melalui keterlibatan warga dalam penanaman mangrove.

Sementara itu, Strategic Communication Manager PT GKP Hendry Drajat menegaskan bahwa transparansi dan kinerja lingkungan merupakan fondasi utama operasional perusahaan.

"Kami ingin menunjukkan bahwa praktik pertambangan yang bertanggung jawab bukan sekadar wacana, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata yang terukur demi manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan," jelas Hendry.


Sumber: Antara Sultra